Agama Bangsa Nusantara

  • AGAMA BANGSA NUSANTARA
Berbagai kajian telah dilakukan untuk mencari data tentang Etnis penghuni Nusantara, Seperti yang pernah dibahas sebelumnya bahwa sejak jaman Perburuaan manusia sudah mengenal keyakinan dan harapan yang menjadi cikal bakal Agama Purba. Sejak jaman Pleistosen akhir para penghuni Nusantara sudah mengenal peradaban yang berkaitan dengan Agama, dari berbagai hasil budaya batu purba seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarkofagus, dan punden berundak membuktikan bahwa penghuni Sudah mengenal Agama dengan berbagai ritual pemujaanya. berlanjut ke jaman perunggu sampai ke jaman logam banyak ditemukan hasil galian yang berhubungan dengan penguburan mayat dan kegiatan sosial yang mengindikasikan bahwa ada hubungan antara prilaku sosial dan Agama pada kehidupan penghuni Nusantara.
P.Mus dalam L.Inde vue de I'est . Cultes Indiens Etindigenes au Champa menjelaskan bahwa pada zaman purbakala pernah terdapat kesatuan kebudayaan pada wilayah yang luas meliputi India, Indochina, dan Nusantara termasuk kepulauan di wilayah Pasifik, mereka percaya kepada sesuatu yang ghaib dibalik benda-benda yang besar dan luas yang telah memberi keberuntungan atau kesialan dalam kehidupan mereka, juga percaya bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki kedaulatan untuk memanggil, mendamaikan atau mengusir kekuatan ghaib tersebut. Kluas epercayaan tersebut yang disalah artikan oleh Ilmuan Orientalis dengan istilah Animisme dan Dinamisme.
kepercayaan yang disebut P.Mus sebagai Animisme Dinamisme tersebut pada hakikatnya adalah Agama Kuno penduduk Nusantara yang dalam istilah jawa dikenal dengan nama Kapitayan. Agama yang sudah dianut sekian lama sejak Masa Paleolitikum hingga zaman Modern dengan nama yang berbeda-beda di setiap wilayahnya seiring dengan perkembangan ras manusia dan membentuk suku-suku di Nusantara, Seperti berbeda-bedanya bahasa di setiap suku, Nama agama ini pun menjadi berbeda-beda di setiap wilayahnya seperti Isilah Sunda Wiwitan pada suku Sunda, Kejawen pada suku Jawa, Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak, Ugamo Malim pada suku Batak dan nama yang lain pada setiap suku yang berbeda sebelum datangnya pengaruh Indus dan China pada awal abad Masehi dan membentuk kerajaan2 baru dengan agama baru.
  • AGAMA KAPITAYAN
Dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa, leluhur yang pertama kali dikenal sebagai penganjur Kapitayan adalah Danghyang Semar keturunan tegas dari Manusia Modern (Homo Sapiens) pertama yang di turunkan ke dunia yaitu Adam. Dalam kitab kuno Pramayoga dan Pustakaraja Purwa Silsilah Nabi Adam sampai Danghyang semar dijelaskan sebagai berikut :
Nabi Adam -> Nabi Syis -> Anwas dan Anwar -> Hyang Nur Rasa -> Hyang Wenang -> Hyang Tunggal -> Hyang Ismaya -> Wungkuhan -> Smarasanta (Semar)
Menurut cerita, negeri asal Danghyang semar adalah Lemuria ataw Swetadwipa, Bangsa kulit hitam dari Benua yang tenggelam akibat banjir besar yang mengakibatkan Danghyang semar dan kaumnya mengungsi ke Nusantara. Danghyang semar memiliki saudar bernama Sang Hantaga (Togog) yang hidup di wilayah lain juga mengajarkan Kapitayan, Saudara semar yang lain bernama Manikmaya, menjadi penguasa di Alam Ghaib yang disebut Ka-Hyang-an (Kayangan).
Secara sederhana, Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya. yang bermakna hampa, kosong, suwung, awang uwung. Taya bermakna yang Absolute, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayang bayangkan, tidak bisa didekat dengan panca indera. Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat "Tan kena Kinaya Ngapa" yang artinya tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Kata Taya bermakna tidak ada tapi ada, tidak ada tetapi ada. Untuk itu agar bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu atau To, yang bermakna seutas benang, daya ghaib yang bersifat Adikodrati.
Tu atau To adalah tunggal dalam dzat, Satu pribadi. Tu Lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ke-tidak baikan. Tu yang bersifat baik disebut Tu-han dengan nama Sanghyang Wenang, Tu yang bersifat tidak baik disebut han-Tu dengan nama Sang Manikmaya. demikianlah baik Sanghyang Wenang dan Sang Manikmaya adalah sifat saja dari sanghyang Tunggal yang Ghaib.


Oleh karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat utamanya itu bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa didekati oleh panca indera dan alam pikiran manusia. demikianlah, dalam ajaran kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan sang taya yang mempribadi dalam Tu atau To itu mempribadi dalam segala sesuatu yang memiliki nama Tu atau To seperti : wa-Tu (Batu), Tu-rumbuk (pohon beringin) Tu-gu, Tu-lang, Tu-ndak (bangunan berundak), Tu-tud (hati,limpa), To-san (pusaka), To-peng, To-ya (air).
Dalam melakukan puja bakti sesembahan kepada Sanghyang Taya maka disediakan sesaji Tu-mpeng dalam Tu-mpi (keranjang anyaman bambu), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan kepada sanghyang Tu-nggal yang sifat gaibnya tersembunyi dibalik sesuatu yang memiliki daya ghaib seperti wa-Tu, Tu-gu, Tu-rumbuk, Tu-lang, Tu-ndak, To-san, To-ya. Namun untuk melakukan permohonan yang tidak baik, persembahan ini akan ditujukan kepada han-Tu yang bernama sang Manikmaya dengan persembahan yang buruk bernama Tu-mbal.

Berbeda dengan persembahan sesaji kepada Sanghyang Tu-nggal yang merupakan puja bakti melalui pelantara, para Rohaniawan kapitayan melakukan sembah-Hyang langsung kepada Sanghyang Tu-nggal di suautu ruangan khusus bernama Sanggar, bangunan persegi empat beratap Tu-mpang, dengan Tu-tuk (lubang) di dinding sebelah timur sebagai lambang kehampaan Sanghyang, mengikuti aturan tertentu :
  • Mula mula sang Rohaniawan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) dengan kedua tangan diangkat keatas menghadirkan Sanghyang taya kedalam Tu-tud (hati), setelah merasa Sanghyang taya hadir didalam hati, kedua tangan diturunkan di dada tepat pada Tu-tud (hati), posisi ini disebut Swadikep (sidakep/memegang ke-akuan diri), proses Tulajeg ini dilakukan dalam tempo lama.
  • Setelah tulajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang kebawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama.
  • Lalu dilanjut kan dengan posisi Tu-lumpuk (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki) dilakukan dalam relatif lama.
  • Yang terakhir, dilakukan dengan posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya) juga dilakukan dalam tempo yang lama.
  • Setelah melakukan sembahyang yang begitu lama itu, Rohaniawan Kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan Sanghyang taya yang sudah disemayamkan didalam Tu-tud (hati).
    Seorang pemuja Sanghyang taya yang dianggap saleh akan akan dikaruniai Tu-ah (kekuatan gaib yang bersifat positif) dan Tu-lah (kekuatan gaib penangkal negatif). Mereka yang memiliki Tu-ah dan Tu-lah itulah yang dianggap berhak menjadi pemimpin masyarakat dengan gelar ra-Tu atau dha-Tu.
    Dalam ajaran kapitayan, para ra-Tu atau dha-Tu yang sudah dikaruniai Tu-ah dan Tu-lah setiap gerak geriknya akan ditandai oleh Pi, yaitu kekuatan dari sanghyang taya yang tersembunyi. itu sebabnya ra-Tu atau dha-Tu menyebut diri dengan kata ganti Pi-nakahulun
      - jika berbicara disebut Pi-dha-Tu (Pi-dato)
      - jika memberi pengajaran disebut Pi-wulang
      - Jika memberi petunjuk disebut Pi-tuduh
      - jika memberi nasihat disebut Pi-tutur
      - jika memberi hukuman disebut Pi-dana
      - jika memancarkan wibawa disebut Pi-deksa
      - jika meninggal dunia disebut Pi-tara
    Seorang ra-Tu atau dha-Tu adalah pengejawantahan kekuatan ghaib Sanghyang Taya, Citra pribadi sanghyang Tunggal.
    Demikianlah ajaran yang dianut oleh bangsa Nusantara sejak zaman purba dan masih bertahan sampai hari ini dengan nama dan cara yang berbeda seiring dengan perkembangan ras manusia beserta kebudayaanya. pada masa Modern, ajaran tersebut masih secara utuh dianut oleh sebagian masyarakat suku pedalaman dengan istilahnya masing-masing seperti Sunda Wiwitan pada suku Sunda, Kejawen pada suku Jawa, Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak, Ugamo Malim pada suku Batak.
    Adapun agama-agama yang sekarang ada adalah pengaruh dari luar yang baru datang sejak awal Abad Masehi, seperti Agama Hindu dan Budha dari India dan China, Agama Kristen dari Eropa, dan Agama Islam yang merupakan pengaruh dari berbagai negeri seperti Persia, Arab, Rum, Gujarat, Tiongkok dan Champa.



    Seluruh tulisan ini merupakan hasil kajian Pesantren Ramadhan bersama Ki Ngabehi H.Agus Sunyoto
    yang diselenggarakan di Pesantren Global Trabiyyatul'arifin, Pakis, Swojajar, Malang
    Dengan tambahan gambar yang diambil dari berbagai sumber.
    Baca selengkapnya >>>

    Aksara Bangsa Nusantara


  • SEJARAH AKSARA NUSANTARA

  • Mengkaji Aksara nusantara akan selalu mengarah pada inkulturisasi kebudayaan India. Para peneliti baik pribumi atau dari luar selalu mengajukan pendapat senada bahwa aksara di Nusantara hadir sejalan dengan berkembangnya ajaran Hindu-Budha dari India yang mengakulturasi budaya setempat termasuk aksara.(de Casparis:1975).
    Namun sejauh fakta yang ada, pendapat itu tidak disertai penjelasan tuntas hingga pada suatu waktu seorang ahli epigrafi yang berkebangsaan Perancis bernama Louis Charles Damais (l951--55) yang menyatakan bahwa hipotesis para ahli tersebut belum benar-benar menegaskan dari mana dan bagaimana awal kehadiran serta mengalirnya arus kebudayaan India ke Nusantara kecuali diperkirakan tidak hanya berasal dari satu tempat saja, tetapi juga dari berbagai tempat lainnya. Walaupun tidak dipungkiri bahwa aksara-aksara di Nusantara memang menampakkan aliran India Selatan atau aliran India Utara, namun juga cukup rumit dan sulit ditentukan darimana kepastian awalnya sebab meskipun ada pengaruh India, tetapi kebudayaan India tidaklah berperan sepenuhnya terhadap lahirnya aksara di Nusantara khususnya suku bangsa yang menghasilkan sumber tertulis dengan mempergunakan aksara-aksara nasional atau aksara daerah yang tergolong kuno itu.

    Datangnya pengaruh dari India tidak berarti bahwa di kala itu bangsa Nusantara belum mengenal aksara sebagai alat interaksi sosial dengan bangsa-bangsa lain. terbukti bahwa Nusantara sebagai tujuan utama ekspedisi bahan pangan dunia. namun sejarah yang tercatat menyatakan bahwa aksara tertua di Nusantara (Asia Tenggara umumnya) disebarluaskan seiring dengan menyebarnya agama Buddha. Jenis aksara yang semula dipergunakan untuk menulis ajaran. mantra-mantra suci atau teks-teks dengan jenis aksara yang dipakainya disebut Sidhhamartika, disingkat Siddham. Tetapi sarjana Belanda lebih menyukai istilah Pre-Nagari (Damais 1995; Sedyawati 1978) yang pada proses perkembangannya menjadi Aksara Devanagari untuk bahasa Sanskreta. Tulisan-tulisan ini hanya terbatas pada media Stupika yaitu tanah liat yang dibakar, media ini banyak ditemukan di asia tenggara termasuk di Bali, Jawa, dan Sumatra menggunakan bahasa Sanskreta. hasil uji karbon media tersebut menunjukan rentang waktu antara Abad pertama sampai ketiga Masehi.
    Aksara yang kemudian lebih populer di Nusantara adalah aksara dari dinasti Pallava (India Selatan) selanjutnya disebut aksara Pallawa, juga memiliki kecenderungan tidak menyertakan unsur pertanggalan, dijumpai pada prasasti tujuh Yupa (tugu peringatan kurban) kerajaan Kutai (Kalimantan timur) yang diperkirakan dari tahun 400 Masehi dan sejumlah prasasti dari kerajaan Tarumanagara (Jawa Barat) tahun 450 Masehi. Sedangkan ragam hias yang aseli karya pribumi dapat ditemukan di daerah sulawesi seperti suku Toraja dan di Sumatra utara pada suku Batak yang keduanya merupakan keturunan terdekat dari Ras Proto Melayu/Melayu Kuno.

    Beberapa pendapat menyatakan bahwa kemungkinan aksara-aksara yang hadir di Nusantara merupakan perkembangan dari aksara Pallawa namun ciri dan pertaliannya masih belum benar-benar dijelaskan, sebab difrensiasi ciri atas aksara-aksara lokal dan kaitannya kepada Pallawa terlampau jauh. Batas antara gaya aksara yang satu (lebih tua) dengan yang hadir kemudian sulit ditentukan, kemungkinan keduanya berkembang secara hampir bersamaan. Atau gaya yang telah ada kemungkinan tersilih oleh kehadiran gaya dan jenis aksara yang baru, peralihan dan pergantian sesuai perkembangan zaman seperti yang terjadi dengan munculnya aksara Pegon dan Latin. Yang baru telah berkembang lebih meluas sedangkan yang lama berkembang secara lokal saja.
    • MEDIA PENULISAN AKSARA NUSANTARA;
    Di masa lampau aksara diwujudkan atau digambarkan dengan cara digores atau dipahat pada berbagai media keras seperti batu, logam (emas, perunggu, tembaga), kayu, juga bahan-bahan lunak seperti daun tal (ron-tal), atau nipah. Alat menggores atau memahat aksara yakni semacam tatah kecil (paku/pasak) menyudut tajam pada bagian ujungnya, atau semacam pisau kecil dibentuk melengkung, pipih, sangat tajam. Selain berfungsi untuk menorehkan aksara, juga untuk mengiris dan menghaluskan bahan (daun) menjadi lempiran-lempiran tipis dengan ukuran panjang, lebar dan ketebalan tertentu yang siap pakai. Bahan-bahan keras seperti batu atau jenis logam tertentu (emas, tembaga, perunggu) dipakai semata karena bahan tersebut dianggap lebih tahan lama.
    Sejumlah besar data tekstual (prasasti) dari masa lampau sebagian besar ditemukan pada batu atau lempeng emas, perunggu maupun tembaga dan selalu dikeluarkan oleh penguasa (raja). Oleh karena itu setiap prasasti adalah dokumen resmi pemerintah negara atau kerajaan dan benar-benar disahkan oleh raja. Adapun salinan atau tembusan (tinulad/tiruan otentik) prasasti yang digoreskan pada lempeng tembaga disebut tamra prasasti (Kartakusuma 2003; 2006).
    Pada masa lampau, kegiatan menggoreskan atau memahat aksara (naskah karyasastra atau prasasti) dipegang oleh ahli pemahat aksara yang disebut citraleka. Maka itu hasil yang digoreskan atau uang pahatan aksara yang berkembang pada masa klasik bentuknya lebih dapat digolongkan sebagai karya seni kebudayaan menampilkan kekhasan atau keunikan jejak bekas tersendiri.
    Tentu saja setiap aksara tidak pula ter-lepas dari gaya dan tekanan pahatan yang nampak pada bagian-bagian teks aksara dicirikan oleh tebal, tipis, dengan posisi tubuh aksara tegak, agak tegak, dan miring, ataupun bentuk yang persegi, bulat, pipih memanjang, melebar, tambun, dan kokoh tegak.

  • PERIODISASI AKSARA NUSANTARA
    • Zaman Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha
    Aksara yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha pada umumnya digunakan untuk menuliskan Bahasa Sanskerta atau bahasa daerah yang sangat terpengaruh Bahasa Sanskrta. Tapi ada juga aksara yang tidak dipengaruhi Buddha dan Hindu, tidak terpengaruh Bahasa Sanskrta, seperti aksara Malesung di Sulawesi Utara.
    1. Aksara Pallawa
    2. Aksara Nagari
    3. Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuna)
    4. Aksara Malesung (Aksara Minahasa Kuno)
    5. Aksara Buda
    6. Aksara Sunda Kuna
    7. Aksara Proto-Sumatera 
    >>> klik nama aksara untuk menuju Link Selengkapnya
    • Zaman Kerajaan-kerajaan Islam
    Aksara yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Islam di antaranya memiliki huruf untuk menuliskan bunyi dalam Bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa daerah (misalnya Aksara Jawa dan Aksara Bali) ataupun sistem vokalnya mengikuti sistem vokal Abjad Arab yang hanya mengenal tiga bunyi vokal (misalnya Aksara Kerinci dan Aksara Buhid).
    1. Aksara Batak (Surat Batak)
    2. Aksara Rejang
    3. Aksara Kerinci (Surat Incung)
    4. Aksara Lampung (Had Lappung)
    5. Aksara Jawa (Jawa Baru/Hanacaraka)
    6. Aksara Bali
    7. Aksara Lontara
    8. Aksara Baybayin (Tagalog)
    9. Aksara Tagbanwa
    10. Aksara Buhid
    11. Aksara Hanunó'o
    12. Aksara Kapampangan
    13. Aksara Eskaya
    >>> klik nama aksara untuk menuju Link Selengkapnya
    • Zaman Modern
    Aksara daerah yang berkembang pada zaman modern memiliki huruf untuk menuliskan bunyi dalam Bahasa Arab (misalnya f,q dan z) dan Bahasa Latin (misalnya x dan v) yang tidak terdapat dalam bahasa daerah. satu-satunya aksara Kuno yang di modernisasi sebagai aksara baku adalah Aksara Sunda. Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus UNPAD Jatinangor yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan akhirnya pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara Sunda Baku.
    • Aksara lain yang digunakan di Nusantara
  • Abjad Arab Jawi untuk Bahasa Melayu
  • Abjad Jawi adalah salah satu dari abjad pertama yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu. Bukti dari penggunaan ini ditemukan di Batu Bersurat Terengganu, bertanggal 1303 Masehi (atau 702H pada Kalendar Islam). Abjad Jawi merupakan tulisan resmi dari Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada zaman kolonialisme Britania.

  • Abjad Arab Pegon untuk Bahasa Jawa & Sunda
  • Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan Gundhil/Arab gundul. Huruf pegon di Jawa dipergunakan oleh kalangan umat Muslim, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis komentar pada Al-Qur'an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon. Misalkan naskah-naskah Serat Yusup.

  • Alfabet Latin
  • Alfabet latin masuk ke Nusantara dibawa oleh bangsa Eropa terutama Belanda dan Inggris pada masa kolonialnya. dalam perkembanganya, Alfabet latin di Nusantara mengalami beberapa kali perubahan tata aksara.
    1. Ejaan Van Ophuijsen
    2. Ejaan Soewandi
    3. EYD / Ejaan Yang Disempurnakan
    >>> klik nama ejaan untuk menuju Link Selengkapnya)
  • Huruf Hanzi
  • Huruf Hanji masuk ke Nusantara dibawa oleh para pedagang muslim dari China yang menetap sebagai penduduk pribumi di sepanjang pantai utara dari Semarang sampi ke Surabaya. Mereka membuka tempat belajar dan juga membangun masjid-masjid bercorak Tiongkok.
    • VARIASI AKSARA
    Seiring perubahan zaman, budaya, dan bahasa masyarakat penggunanya, suatu aksara dapat mengalami perubahan jumlah huruf, bentuk huruf maupun bunyinya, walaupun tetap saja dianggap sebagai bagian dari aksara induknya; atau dengan kata lain, tidak terpecah menjadi aksara baru. Demikianlah misalnya Abjad Arab yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Arab sedikit berbeda dengan Abjad Arab yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Melayu, atau juga Alfabet Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Latin sedikit berbeda dengan Alfabet Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Jerman. Dalam perjalanan sejarahnyapun Aksara Nusantara tidak luput dari kecenderungan untuk memunculkan variasi-variasi baru yang tetap mempertahankan kaidah inti aksara induknya.



    Sumber sepenuhnya dari Wikipedia dengan penambahan gambar dari berbagai sumber
    Baca selengkapnya >>>

    Peradaban Bangsa Nusantara

    • MASA BERBURU HINGGA BERCOCOK TANAM
    Berbagai penelitian dilakukan untuk mencari data tentang bangsa Nusantara, pada bab sebelumnya telah dibahas mengenai penghuni Nusantara di masa Purba mulai dari Pithecantrophus Erectus sampai Homo Sapien dari berbagai ras dan menghasilkan keturunan keturunan baru yang pada masa modern disebut dengan bangsa Melayu.
    Peradaban bangsa Nusantara tidak bisa terlepas dari perkembangan peradaban manusia di dunia secara global yaitu dari era Paleolithikum (zaman batu tua), Messolithikum, Neolithikum hingga Megalithikum yang ditandai dengan berakhirnya gaya hidup nomaden pada manusia purba menuju Revolusi pertanian antara 8.000-5.000 SM.
    Pada Paleolitik Madya (300.000–30.000 tahun lalu), manusia modern anatomis (Homo sapiens) muncul di benua Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu. Mereka menyebar secara cepat dari Afrika menuju kawasan bebas es di Eropa dan Asia sekitar 60.000 tahun yang lalu dan mencapai Nusantar sekitar 50.000-40.000 tahun lalu . Mereka mengembangkan bahasa dan repertoar konseptual untuk pemakaman sistematis bagi kerabat yang meninggal dan penghiasan diri bagi yang masih hidup seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarkofagus, dan Punden berundak. Selama periode ini, umat manusia bekerja sebagai pemburu-pengumpul makanan.
    Kehidupan dengan harapan akan keberhasilan dalam perburuan juga melahirkan kepercayaan, atau religi purba. Ekspresi artistik awal dapat ditemukan dalam bentuk lukisan gua dan ukiran yang dibuat dari kayu atau batu. Umumnya manusia purba menggambarkan hewan buruannya atau aktivitas perburuannya. Selain itu, pada umumnya mereka hidup nomadis, kerap berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tergantung jumlah hewan buruan di tempat tinggal mereka. Sebagian dari mereka sudah sampai ke wilayah Papua, Fiji sampai ke Australia.


    Gaya hidup nomaden telah berakhir setelah Revolusi Pertanian (antara 8000–5000 SM) yang dimulai dari kawasan Hilal Subur. Revolusi tersebut merupakan titik perubahan besar dalam sejarah umat manusia termasuk di Nusantara, karena sejak masa itu mereka mulai hidup menetap sebagai petani di suatu tempat dan telah mampu membudidayakan tumbuhan di dekat wilayah perairan dengan bercocok tanam sekaligus berternak hewan. Belum ditemukan catatan tentang era pertanian di Nusantara, namun catatan peradaban dunia menunjukan bahwa Pada masa 3000 tahun sebelum Masehi, telah muncul peradaban di lembah Mesopotamia (dataran di antara sungai Tigris dan Efrat) di Timur Tengah, di tepi Sungai Nil, Mesir, dan di lembah Sungai Indus. Selain itu, peradaban juga muncul di lembah Sungai Kuning, apalagi di Nusantara yang tanahnya lebih subur dibanding wilayah lainya di belahan dunia manapun, jangankan di tepi perairan, diatas gunung pun bisa tumbuh subur pepohonan dan sayuran, bahkan penulis berasumsi bahwa era pertanian di Nusantara telah ada lebih dulu diaripada wilayah lainya yang tercatat dalam Sejarah Peradaban dunia.
    Di tempat-tempat perkembangan peradaban kuno, pertumbuhan masyarakat yang semakin kompleks menyebabkan penciptaan aksara untuk mempermudah usaha administrasi dan niaga Seiring dengan perkembangan pertanian, lalu terbentuknya wilayah perkotaan sebagai pusat transaksi pertukaran hasil budidaya antar masyarakat dari berbagai wilayah dengan hasil budidayanya yang berbeda-beda. Dari kota-kota inilah lalu muncul peradaban modern dan pemerintahan sederhana yang bersifat administratif sebagai penyokong kegiatan transaksi dan penyelesaian masalah.
    Baca selengkapnya >>>

    Data Tentang Bangsa Nusantara

    • DATA GEOGRAFI
    Nusantara menurut teori terletak diantara 3 lempeng dunia yang potensial menimbulkan tekanan sangat besar pada lapisan kulit bumi. Hasilnya membentuk hamparan luas yang dikenal sebagai Paparan Benua Sunda yang pada mas purbakala disebut sebagai Swetadwipa atau Lumeria dengan barisan gunung berapi dan pegunungan yang panjang. Pada zaman Glacial Wurm atau Zaman Es akhir (sekitar 500.000 tahun silam) Es dari kutub utara dan kutub selatan mencair sehingga air laut naik menenggelamkan hamparan benua sunda, menyisakan dataran tinggi dan puncak-puncak gunung vulkanis, belakangan sisa-sisa dataran yang tidak tenggelam tersebut dikenal dengan nama Nusantara.
    • ETNIK PENGHUNI
    Dalam kajian antropologi ragawi, bangsa Nusantara memiliki sejarah yang sangat panjang. Mulai dari ditemukanya fosil manusia purba yang disebut Phitecantrophus Erectus oleh Eugene Dobuis disusul dengan temuan Homo Mojokertensis, Meganthropus Paleojavanicus, Homo Soloensis hingga Homo Wajakensis menunjukan rentang waktu antara 1.000.000 sampai 12.000 tahun silam Nusantara telah dihuni manusia. namun menurut Harry Widianto dalam bukunya Mata Rantai Itu Masih Terputus Homo Sapiens yang muncul di bumi sejak 40.000 tahun lalu sangat berbeda dengan Homo Erectus yang hidup antara 300.000-200.000 tahun lalu. Disimpulkan bahwa Homo Sapien bukanlah perkembangan Evolutif dari Homo Erectus.
    Menurut data lembaga Eijkman, Homo Erectus yang menghuni Nusantara antara 1.000.000 sampai 100.000 tahun lalau telah punah, yang kemudian menghuni kepulauan Nusantara adalah Homo Erectus (nenek moyang ras Melanesia) yang bermigrasi dari Afrika sekitar 70.000 - 60.000 tahun lalu dan Homo Sapiens asal Asia (nenek moyang ras Austronesia) yang datang sekitar 50.000-40.000 tahun lalu.
    • Ciri ras Melanesia dari Afrika
    1. - Kulit hitam
    2. - Rambur keriting
    3. - Mata lebar
    4. - Hidung besar 

    • Ciri ras Austronesia
    1. - Kulit kuning
    2. - Rambur lurus
    3. - Mata sipit
    4. - Hidung kecil

    Sebagian manusia dari ras Melanesia telah sampai di kepulauan sebelah barat Nusantara seperti irian, Papua, Nugini, sampai Australia, Sebagian lagi masih bertahan di wilayah timur dan berbaur dengan ras baru yaitu Austronesia, Kedua ras tersebut berbaur dalam satu populasi di Nusantara, keturunan campuran dari kedua ras tersebut menghasilkan ras baru yang disebut Melanesia-Austronesia (Mel-Au/Melayu)


    ras baru inilah yang menghuni wilayah Nusatenggara, Maluku, dan Timur Leste. Ciri-ciri fisik dari ras campuran ini adalah perpaduan dari kedua ras induknya.
    1. - Kulit tidak hitam-tidak kuning
    2. - Rambut tidak keriting-tidak lurus
    3. - Mata tidak lebar-tidak sipit
    4. - Hidung tidak besar-tidak kecil
    Di sisi lain ras Melanesia juga berbaur dengan ras Australoid (ras campuran dari Austranesia & Mongoloid) dari wilayah China selatan, mereka berbaur dalam satu populasi dan menghasilkan keturunan baru yaitu ras Australo-Melanesia dengan ciri-ciri fisik turunan dari tiga ras indukyna (Austronesia-Mongoloid-melanesia) sehingga ciri khas dari masing2 ras tidak terlalu kuat. ras baru ini menyebar di sebagian besar wilayah Asia tenggara, yang kemudian disebut Ras Proto Melayu / Melayu Kuno. Beberapa suku di Nusantara sebagai bukti penyebaran ras Proto melayu ini adalah :
    1. - suku Bontoc di Igorot Filipina
    2. - suku Tayal di Taiwan
    3. - suku Toraja di Sulawesi
    4. - suku Batak dan Ranau di Sumatra
    5. - suku Wajo yang menyebar dari kepulauan Lingga hingga Cebu di Filipina
    6. - suku Meo dan Karen di sekitar Burma dan Thailand
    Mengikuti perkembangan ras Proto Melayu yaitu ras Deutro Melayu/Melayu Baru yang menyebar di Nusantara, diantara suku-suku yang termasuk ras Deutro Melayu ini adalah Jawa, Madura, Bali, Aceh, Bugis, Minagkabau, dan Sunda
    Ciri yang khas dari ras Proto Melayu dan Deutro melayu yang diturunkan dari nenek moyangnya ras Mongoloid adalah tanda bercak berwarna biru/hijau pada punggung Bayi. Bila ada bayi terlahir dengan bercak biru/hijau pada punggungnya itu menandakan bahwa bayi tersebut adalah keturunan ras Mongoloid.


    Ditulis ulang hasil kajian Pesantren Ramadhan
    Di Pon-Pes Tarbiyyatul Arifin, Malang
    Disertai kutipan Buku Atlas Wali Songo Karangan K.Ng.H.Agus Sunyoto
    Baca selengkapnya >>>
    klik tombol refresh dibawah kolom chatting
    bila pesan tidak muncul secara otomatis
     
    cbox
    close

    Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *


    Supported by : Copyright © Emisson Corp | HaKa |
    Hak Cipta dilindungi Undang Undang |
    Proudly powered by Blogger |